Postingan

TUGAS AKHIR PERKULIAHAN FILSAFAT MATEMATIKA

ELEGI DAN JARGON MENURUT PERSEPSIKU ELEGI Apa itu elegi?, mungkin sebelum saya mengikuti kuliah filsafat pendidikan matematika saya belum pernah mendengarnya apalagi kenal dengannya. Tapi setelah saya mengikuti kuliah Filsafat Pendidikan Matematika hampir setiap pagi, siang, sore, malam saya merasakan saya selalu membuat elegi baik itu elegi yang saya tulis dengan kata-kataku maupun yang tidak dan tiada mampu kutulis. Menurut saya elegi itu banyak sekali pengertiannya, dan rangkaian kata-katapun sebenarnya tiada mampu memberikan pengertian ataupun mendefinisikan sebuah elegi karena hanya elegi sendiri yang mampu memberi pengertian ataupun mendefinisikan atas dirinya. Namun, akan saya coba memberikan gambaran sedikit yang mungkin bisa menjadikan pembaca mengetahui atau malah membuat pembaca semakin bingung dengan yang namanya elegi. Tapi, ,khusus bagi pembaca yang kebingungan saya ucapkan..”selamat…!!”, anda kebingungan berarti anda berfikir. Elegi adalah bahasa kalbu. Dengan Elegi kita...

ELEGI KETENANGAN HIDUP (II)

Tadi pagi aku terbangun dengan mata yang sayu. Lantas kututup lagi mataku karena ngantukku masih melayang bersama mimpi-mimpi. Wuzzz……semilir angin pagi mencoba mengingatkanku pada sebuah kewajiban untuk tidurku yang lain. Bah cerewet ibuku yang tak bosan-bosannya membangunkan tidur anak malas yang begitu rajin tidur-tiduran dan main kesana-kemari. Tenanglah ibu…aku tidur hanya untuk melepas lelah, tapi mengapa setiap saat aku merasa lelah. Mengertilah ibu…aku main, jalan-jalan kesana-kemari karena aku ingin berjabat tangan dengan mereka…Hingga ibupun tak jarang kelepasan meluapkan senyum jengkelnya pada seorang remaja yang ia anggap masih anak ingusan yang lahir kemarin malam… Kubuka lagi mataku yang muram oleh cercaan pagi, aku melihat sang angin yang garang menatapku, Aku: Hey…angin, ngapa engkau lemparkan raut mukamu yang kucel itu di pagiku yang cerah ini??!!! Angin: Mukaku kucel karena mukamu kucel…!, haahhh…PD banget kamu ngomong pagimu cerah..?! Aku: Hmmh, m...

ELEGI KETENANGAN HIDUP (II)

Tadi pagi aku terbangun dengan mata yang sayu. Lantas kututup lagi mataku karena ngantukku masih melayang bersama mimpi-mimpi. Wuzzz……semilir angin pagi mencoba mengingatkanku pada sebuah kewajiban untuk tidurku yang lain. Bah cerewet ibuku yang tak bosan-bosannya membangunkan tidur anak malas yang begitu rajin tidur-tiduran dan main kesana-kemari. Tenanglah ibu…aku tidur hanya untuk melepas lelah, tapi mengapa setiap saat aku merasa lelah. Mengertilah ibu…aku main, jalan-jalan kesana-kemari karena aku ingin berjabat tangan dengan mereka…Hingga ibupun tak jarang kelepasan meluapkan senyum jengkelnya pada seorang remaja yang ia anggap masih anak ingusan yang lahir kemarin malam… Kubuka lagi mataku yang muram oleh cercaan pagi, aku melihat sang angin yang garang menatapku, Aku: Hey…angin, ngapa engkau lemparkan raut mukamu yang kucel itu di pagiku yang cerah ini??!!! Angin: Mukaku kucel karena mukamu kucel…!, haahhh…PD banget kamu ngomong pagimu cerah..?! Aku: Hmmh, ...

ELEGI KETENANGAN HIDUP (II)

Tadi pagi aku terbangun dengan mata yang sayu. Lantas kututup lagi mataku karena ngantukku masih melayang bersama mimpi-mimpi. Wuzzz ……semilir angin pagi mencoba mengingatkanku pada sebuah kewajiban untuk tidurku yang lain. Bah cerewet ibuku yang tak bosan-bosannya membangunkan tidur anak malas yang begitu rajin tidur-tiduran dan main kesana-kemari. Tenanglah ibu…aku tidur hanya untuk melepas lelah, tapi mengapa setiap saat aku merasa lelah. Mengertilah ibu…aku main, jalan-jalan kesana-kemari karena aku ingin berjabat tangan dengan mereka…Hingga ibupun tak jarang kelepasan meluapkan senyum jengkelnya pada seorang remaja yang ia anggap masih anak ingusan yang lahir kemarin malam… Kubuka lagi mataku yang muram oleh cercaan pagi, aku melihat sang angin yang garang menatapku, Aku: Hey…angin, ngapa engkau lemparkan raut mukamu yang kucel itu di pagiku yang cerah ini??!!! Angin: Mukaku kucel karena mukamu kucel…!, haahhh…PD banget kamu ngomong pagimu cerah..?! Aku: Hmmh,...

ELEGI MENGGAPAI PERBINCANGAN BARISAN ARITMETIKA

Jiwaku terbang, anganku melayang seiring lari-lari kecilku di dunia yang belum aku kenal. Selintas kutatap pepohonan yang dari batang hingga ujung daun berwarna hitam kelam. Aku semakin tidak mengenal alam apa ini. Aku terus mencoba berlari dan terus berlari meski rasa rasa lelah telah merangkul erat jiwa ini. Di sela padang rumput luas tempat aku melangkah salah satu pohon nan rindangpun menyapaku untuk melepas lelah. Kurebahkan badanku dibawah rindangnya pohon yang sebenarnya juga belum aku kenal. Di saat seperti itu datanglah makhluk yang aku merasa juga belum mengenalnya. Mata, hidung, mulut hingga seluruh mukanya begitu aneh hingga tulisan dan perkataanku tidak mampu ataupun cukup untuk mendiskripsikannya. Tapi yang jelas makhluk itu memakai jubah panjang sekali hingga mataku tak mampu melihat ujung dari jubahnya. Dalam hatiku merasa keanehan yang luar biasa tapi sekejap kujadikan biasa karena aku ingat bahwa alam ini aneh, jiwa ini aneh dan wahhh….mengapa aku harus bingung jika...

MAWAR PUTIH DI SEBERANG JALAN (II)

Warna putihmu gradasi merahnya egoku Hijau daunmu sejukkan mimpi-mimpi Coklat, runcing durimu… Menjaga kokoh batang prinsipmu, Hingga kuterkagum, Lirik anggunmu yang kelabu… Kan kusentuh dengan desiran angin Kan kusayang dengan aliran do’a Menjagamu dengan segala keterbatasanku Mawar putih di seberang jalan… Warna-warnamu abadi Di bingkai hati

PENGADUAN SEORANG MURID

Suatu hari di kala matahari telah tinggi, seorang diantara teman sepermainan masa kecilnya menunjuk bajunya sendiri sambil berkata,” Guru, baju ini telah usang, dan aku tak punya pengganti. Izinkanlah aku pergi ke pasar, untuk melihat-lihat pakaian, barangkali aku dapat membeli yang baru”. Sahabat yang ia tuakan pun seraya memandang laki-laki itu, dan berkata,” Berikan bajumu padaku” Setelah terlaksana, dia tinggal tanpa busana. Sahabat tua berkata lagi dengan suara menderap bagai kuda berlari: “Hanya yang polos dapat hidup tumbuh tinggi di bawah sinar matahari, dan hanya yang bersahaja akan mampu menunggang angin. Hanya yang pernah tersesat seribu kali, patut mendapat sambutan ketika pulang kembali. “Para malaikat merasa muak dengan manusia yang banyak ulah, dan di telingaku mereka berbisik marah,’ Neraka diciptakan untukmereka yang gemerlapan’. Dan apa selain api, yang dapat melelehkan lapisan emas sepuhan sehingga wujud yang asli menampakkan diri? “Kemudian aku berkata,’ Tetapi bu...